Riset Berdampak untuk Masyarakat, Dua Tim Universitas Narotama Tampilkan Inovasi Air Bersih dan Kedaulatan Pangan pada Festival Riset dan Inovasi Mangrove 2026
04 Agustus 2026, 09:06:58 Dilihat: 86x
Komitmen Universitas Narotama dalam menghadirkan riset yang tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, kembali ditunjukkan melalui partisipasi pada Festival Riset dan Inovasi Mangrove 2026 yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kota Surabaya bersama Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kota Surabaya dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun ke-3 Kebun Raya Mangrove.
Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 25 Juli 2026, di Kebun Raya Mangrove Gunung Anyar, Surabaya, diikuti oleh perguruan tinggi negeri dan swasta di Surabaya. Festival ini menjadi ajang diseminasi hasil penelitian sekaligus ruang kolaborasi antara akademisi, pemerintah, pelajar, dan masyarakat dalam menghadirkan berbagai inovasi yang mampu menjawab persoalan nyata di lapangan.
Setelah melalui proses seleksi yang dimulai pada 17 Juli 2026 dan diumumkan pada 21 Juli 2026, dua tim Universitas Narotama dinyatakan lolos.
Dalam festival yang diikuti sekitar 60 peserta tersebut, Universitas Narotama menghadirkan dua inovasi dengan pendekatan berbeda, namun memiliki tujuan yang sama, yaitu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan hasil riset.
Tim pertama dipimpin oleh Farida Hardaningrum, S.Si., M.T. dari Fakultas Teknik, berkolaborasi dengan dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Elok Damayanti, S.E., M.M, yang juga merupakan Ka. UPM FEB Universitas Narotama. Tim ini menampilkan hasil riset dan pengabdian masyarakat mengenai pemanfaatan teknologi Brackish Water Reverse Osmosis (BWRO) untuk mengolah air payau menjadi air minum layak konsumsi di Dusun Tlocor, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo.
Farida menjelaskan bahwa inovasi tersebut merupakan hasil pengembangan program hibah tahun 2023 yang berangkat dari permasalahan utama masyarakat pesisir, yaitu keterbatasan akses terhadap air bersih. Air sumur warga memiliki kadar garam yang cukup tinggi sehingga belum layak dikonsumsi secara langsung.
Menurutnya, kualitas air diukur menggunakan parameter Total Dissolved Solid (TDS). Air payau umumnya memiliki nilai TDS sekitar 2.000–6.000 ppm, sedangkan air laut berada di atas 6.000 ppm. Sementara itu, air minum yang layak dikonsumsi memiliki nilai TDS di bawah 100 ppm.
"Melalui survei awal, kami menemukan sumber air dengan kadar TDS sekitar 2.000–3.000 ppm sehingga masih memungkinkan diolah menggunakan teknologi BWRO. Air tersebut kemudian diproses melalui beberapa tahapan filtrasi, membran reverse osmosis, serta pemisahan air buangan (reject) hingga menghasilkan air siap minum dengan kualitas di bawah 100 ppm," jelas Farida.
Ia menambahkan bahwa pengembangan teknologi tersebut juga mendapat pendampingan dari tenaga ahli Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sehingga proses perancangan dan implementasi teknologi dapat disesuaikan dengan karakteristik wilayah pesisir.
Keberhasilan menghasilkan air minum layak konsumsi kemudian menjadi dasar penelitian lanjutan pada tahun 2025 melalui kolaborasi antara Fakultas Teknik dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis.
Elok menjelaskan bahwa penelitian lanjutan tersebut berfokus pada peningkatan nilai ekonomi hasil teknologi yang telah diterapkan. Jika sebelumnya air hasil olahan hanya dipasarkan dalam galon dengan harga sekitar Rp5.000, kini produk tersebut dikembangkan menjadi Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) dalam berbagai ukuran, yaitu botol 1,5 liter, botol 600 ml, dan gelas sekitar 220–250 ml.
Seluruh proses pengelolaan dan pemasaran dilakukan oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat setempat.
“Produk air minum dalam kemasan (AMDK) ini tidak hanya memenuhi kebutuhan masyarakat desa, tetapi juga menjadi solusi praktis bagi nelayan yang membutuhkan persediaan air minum selama melaut selama beberapa hari. Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa peningkatan penjualan sebesar 20 persen mampu mendorong kenaikan laba bulanan hingga hampir 50 persen. Peningkatan tersebut dapat dicapai tanpa penambahan biaya tetap maupun biaya operasional inti,” ujar Elok.
Selain meningkatkan pendapatan, pengembangan AMDK juga memberikan nilai tambah yang jauh lebih besar dibandingkan penjualan air dalam galon. Produk kemasan dinilai memiliki nilai ekonomi sekitar lima hingga enam kali lebih tinggi sehingga membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Selama festival berlangsung, stan Universitas Narotama menjadi salah satu yang banyak dikunjungi peserta. Pengunjung yang terdiri atas mahasiswa, pelajar, akademisi, hingga masyarakat umum tampak antusias mempelajari proses pengolahan air payau menjadi air minum.
Melalui media x-banner dan penjelasan langsung dari tim peneliti, pengunjung memperoleh gambaran mengenai tahapan pengolahan air, mulai dari pengambilan air tanah, proses BWRO, filtrasi bertingkat, hingga menjadi air siap konsumsi yang telah lolos uji Laboratorium Teknik Lingkungan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).
Tim juri dari BRIN juga memberikan apresiasi terhadap inovasi tersebut karena dinilai tidak hanya menghasilkan solusi teknologi, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan usaha berbasis desa.
Menurut Farida, inovasi tersebut memiliki potensi besar untuk direplikasi di berbagai wilayah pesisir lainnya yang menghadapi persoalan serupa terkait keterbatasan air bersih.
Sementara itu, Elok mengungkapkan bahwa masyarakat Dusun Tlocor juga merasa bangga karena hasil kolaborasi bersama Universitas Narotama kini dikenal luas dan mendapat perhatian berbagai pihak.
Keberhasilan program di Dusun Tlocor menjadi dasar pengembangan di wilayah lain. Salah satunya pada kegiatan pengabdian masyarakat di Kabupaten Sumenep yang juga memanfaatkan konsep serupa.
Farida menjelaskan bahwa kondisi air di wilayah tersebut memiliki kadar TDS sekitar 600–700 ppm sehingga proses pengolahannya lebih sederhana dibandingkan wilayah pesisir. Meski demikian, prinsip teknologi yang digunakan tetap sama, yakni menghadirkan air layak konsumsi sekaligus mendorong pengembangan usaha air minum kemasan sebagai sumber ekonomi masyarakat.
Selain inovasi teknologi air bersih, Universitas Narotama juga menampilkan hasil penelitian dari tim kedua yang dipimpin oleh Dr. Erma Zahro Noor, S.H., M.H, dosen Fakultas Hukum bersama I Made Kamisutara, S.T., M.Kom, dosen Fasilkom sekaligus Sekretaris LPPM Universitas Narotama,
Berbeda dengan tim pertama yang menghadirkan produk teknologi, tim kedua membawa hasil penelitian dalam bentuk buku berjudul "Merajut Pangan Bangsa" yang mengangkat konsep kedaulatan pangan di kawasan perkotaan.
Dr. Erma menjelaskan bahwa masyarakat sering kali menyamakan ketahanan pangan dengan kedaulatan pangan, padahal keduanya memiliki makna berbeda.
Menurutnya, ketahanan pangan lebih menitikberatkan pada ketersediaan pangan tanpa memperhatikan asal sumbernya. Sebaliknya, kedaulatan pangan menekankan kemampuan masyarakat untuk memproduksi, mengolah, hingga memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri.
"Kalau ketahanan pangan yang penting stok pangan tersedia. Tetapi kalau kedaulatan pangan, masyarakat mampu menghasilkan sendiri mulai dari bibit, menanam, mengolah hingga mengonsumsi hasilnya," jelasnya.
Ide penelitian tersebut berawal dari keprihatinan terhadap ketergantungan Indonesia terhadap berbagai produk impor. Salah satu inspirasi muncul ketika Dr. Erma melihat dampak embargo suku cadang kapal yang menyebabkan kapal tidak dapat beroperasi.
Dari pengalaman tersebut muncul pertanyaan mengenai kesiapan bangsa apabila suatu saat pasokan pangan dari luar daerah maupun luar negeri terganggu.
Selain itu, ia juga menyoroti semakin berkurangnya lahan pertanian akibat alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman dan pembangunan di wilayah perkotaan.
Melalui pendekatan analisis multipolicy terhadap berbagai kebijakan pemerintah daerah, Dr. Erma menemukan bahwa perhatian terhadap pengembangan kedaulatan pangan masih perlu diperkuat.
Sebagai solusi, penelitian tersebut menawarkan konsep urban farming terpadu yang memanfaatkan lahan terbatas secara optimal.
Konsep tersebut mengintegrasikan tanaman pangan, sayuran, buah-buahan, peternakan ayam, hingga budidaya ikan dalam satu kawasan yang saling mendukung.
Menurut Dr. Erma, kawasan tersebut tidak hanya menghasilkan pangan, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai laboratorium pembelajaran bagi mahasiswa, lokasi penelitian, pusat edukasi masyarakat, hingga kawasan wisata edukatif bagi anak-anak.
Ia menilai konsep tersebut juga dapat menjadi sarana pemberdayaan generasi muda melalui kegiatan produktif yang memberikan manfaat ekonomi maupun sosial.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Erma juga mengingatkan pentingnya kesesuaian bantuan teknologi dengan karakteristik wilayah.
Menurutnya, masih banyak bantuan alat pertanian yang tidak dimanfaatkan secara optimal karena tidak sesuai dengan kondisi lahan maupun kebutuhan masyarakat setempat sehingga akhirnya terbengkalai.
Ia berharap setiap program pembangunan diawali dengan survei dan kajian yang matang agar teknologi yang diterapkan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.
Selain itu, sosialisasi mengenai bantuan benih, teknologi pertanian, maupun berbagai program pemerintah juga perlu diperluas sehingga dapat diakses oleh masyarakat secara lebih merata.
Keikutsertaan Universitas Narotama dalam Festival Riset dan Inovasi Mangrove 2026 menjadi bukti bahwa riset dan pengabdian kepada masyarakat mampu berjalan beriringan dalam menghasilkan solusi atas berbagai persoalan di tengah masyarakat.
Melalui kolaborasi lintas disiplin, inovasi teknologi pengolahan air payau berhasil meningkatkan kualitas hidup sekaligus pendapatan masyarakat pesisir. Sementara itu, gagasan mengenai kedaulatan pangan menawarkan perspektif baru dalam membangun kemandirian pangan, khususnya di kawasan perkotaan.
Partisipasi kedua tim tersebut sekaligus menegaskan komitmen Universitas Narotama untuk terus menghasilkan penelitian yang implementatif, berkelanjutan, serta memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat, sejalan dengan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.